Jumat, 06 Februari 2015

TAFSIR AL-JAWAHIR



A.     Gambaran Kitab
Kitab Tafsir Al Jawahir adalah buah karya dari seorang ulama bernama Syaikh Tantowi Jauhari dengan judul asli: al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Kitab ini terdiri dari 25 juz (13 jilid), dengan rata-rata per jilidnya berjumlah 200-300 halaman dengan cover berwarna merah. Jilid pertama berjumlah 224 halaman, jilid kedua berjumlah 276 halaman, jilid ketiga dan keempat 215 halaman, jilid kelima 270 halaman, jilid keenam 264 halaman, jilid ketujuh 227 halaman, jilid kedelapan 238 halaman, jilid kesembilan 262 halaman, jilid kesepuluh 267 halaman, jilid kesebelas 271 halaman, jilid keduabelas 344 halaman, dan jilid ketigabelas berjumlah 270 halaman. Kitab tafsir ini diterbitkan oleh Mu’sasah Musthafa al-Babi al-Halabi pada 1350 H/ 1929 M lalu dicetak di Beirut, oleh Dar al-Fikr pada 1395 H/ 1974 M. Ukuran dari kitab ini 28 x 19,5 cm.
B.     Biografi
Tanthawi Jauhari Tanthawi bin Jawhari al-Mishriy lahir pada 1287 H/1862 M (ada yang menyebut tahun 1870 M) di desa 'Iwadillah, di propinsi administratif Mesir Timur, dekat dengan peninggalan Fir'aun. Masa kecilnya, Tanthawi hidup bertani bersama orang tuanya, tapi ia juga belajar di kuttab (semacam pesantren penghafal Al Quran) yang berada di desa al-Ghar, di samping belajar pada pamannya, yang masih keturunan bangsawan. Orang tuanya menginginkan Tanthawi kelak menjadi orang terpelajar.Atas saran pamannya, Syekh Muhammad Syalabi, yang juga Guru Besar bidang sejarah di Universitas AI-Azhar, Tanthawi pun mempelajari ilmu bahasa Arab (fashahah dan balaghah) serta ilmu agama, lalu kuliah di Al-Azhar, Kairo.Tetapi karena faktor kesehatan, studinya terhenti.la kembali ke habitat keluarganya, yaitu bertani. Kendati demikian, minat belajarnya tak terhenti.
Di tengah kesibukannya, Tanthawi selalu mengamati dan memperhatikan pepohonan, bunga-bunga, dan tanaman lainnya. Mulai dari proses tumbuhnya, fungsinya, hingga manfaatnya di bidang kedokteran. Ternyata Allah SWT membukakan mata hatinya untuk mengetahui ilmu-ilmu alam. Saat memperhatikan keindahan dan keelokan alam, ia pun berdoa semoga Allah SWT memberikan kesembuhan padanya. Setelah sembuh dari sakitnya, kemudian  ia pun kembali masuk ke Al-Azhar setelah tiga tahun meninggalkannya. Kali ini, Tanthawi belajar al-Khitabah (seni berpidato) dan ilmu falak pada Syekh 'All AI-Bulaqi selama empat tahun.
 Semasa kuliah itu ia bertemu dengan Muhammad Abduh, dosen tafsir, yang besar pengaruhnya terhadap pemikiran Tanthawi, terutama dalam bidang tafsir. Tanthawi selalu berusaha mengikuti kuliah yang diberikan Muhammad Abduh.
Tahun 1889, Thanthawi pindah ke Universitas Dar al-'Ulum, hingga tamat pada 1893. Di sini ia mempelajari beberapa mata kuliah yang tidak diajarkan di Al-Azhar, seperti matematika (al-Hisab), ilmu ukur (handasah), aljabar, ilmu falak, botani (‘ilm al-Nabat), fisika ('ilm al-Habi'ah), dan kimia (al-Kimiya'). Setelah menyelesaikan studinya, beberapa waktu lamanya Tanthawi mengajar di tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Kemudian ia mengajar di almamaternya, Dar 'Ulum. Lalu tak lama kemudian (1912) ia juga mengajar di al-Jami'ah ai-Mishriyyah untuk bidang studi Filsafat Islam. Di samping mengajar, Tanthawi juga aktif menulis, Selain artikel-artikelnya selalu muncul di Marian Al-Liwa, ia telah menulis kurang dari 30 judul buku, sehingga dirinya dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan dua peradaban, yaitu agama dan perkembangan modern pemikiran sosial-politik.
Tanthawi selalu mengatakan Islam adalah agama akal.Maksudnya, ilmu pengetahuan sesuai dengan tuntunan Al Quran, la juga aktif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan melalui surat-surat kabar dan majalah, serta menghadiri berbagai pertemuan ilmiah. Selain itu, ia pun mendirikan lembaga pendidikan bahasa Inggris, supaya para pemuda Muslim dapat memahami ilmu dari Barat dan pemikiran mereka. Ada dua bidang keilmuan yang dipandangnya menjadi dasar untuk mencapai tingkat pengetahuan ilmiah, yaitu tafsir dan fisika.Pengetahuan ini pulalah yang dijadikannya 'penangkal' kesalahpahaman orang yang menuduh Islam menentang ilmu dan teknologi modern. Sebagai penulis, Tanthawi telah menghabiskan  umurnya untuk mengarang dan menerjemahkan buku-buku asing ke bahasa Arab, sejak ia mulai menjadi guru hingga pensiun tahun 1930.
Ketika pecah Perang Dunia I (1914), Tanthawi banyak membangkitkan semangat penduduk di sekitar Dar al-'Ulum untuk melawan Inggris, baik melalui tulisan maupun ceramah atau khutbah, la juga tergabung dalam Partai Nasional yang dibentuk oleh Musthafa Kamil. Selain itu ia membentuk kelompok mahasiswa yang diberinya nama 'al-Jam'iyah al-Jawhariyah' (Organisasi Mutiara). Organisasi ini berpengaruh dalam menyebarkan rasa kebangsaan dan martabat peradaban rakyat Mesir, khususnya di daerah Iskandariyah.
Tanthawi wafat pada 1940 M/1358 H, Posisi Tanthawi Para ilmuwan memberikan ragam penilaian terhadap Tanthawi. Ada yang menyatakan, ia seorang sosiolog (hakim ijtima’i) yang selalu memperhatikan kondisi umat. Pernyataan ini didasarkan pada dua karya tulisnya: (1) Nahdlah al-Ummah wa Hayatuha (Kebangkitan dan Kehidupan Umat) yang membahas sistem kehidupan sosial, kondisi umat Islam, ilmu dan peradaban, hubungan antara dua peradaban umur dan barat yang mestinya saling menguntungkan. (2) Aina al-lnsan. membahas tentang hubungan antara organisasi atau kelompok, masalah politik dan sistem pemerintahan.
Selain itu Tanthawi juga banyak membahas tentang objek materi dan hukum alam, sebagaimana terungkap dalam bukunya Nidzam al-'Alam wa al-Umam (Keteraturan Alam Semesta dan Girl Bangsa-bangsa), membahas tentang dunia tumbuhan, hewan, manusia, pertambangan, sistem ruang angkasa (Nidzam al-Samawat) fenomena kehidupan raja, politik Islam, dan politik konvensional, terbit 1905.
Ia mengangkat dua ide besar yaitu: bahwa agama Islam merupakan agama fitrah, relevan dengan rasio manusia dan penciptaan jasmani manusia (al-Jhiba' al-Basyariyah), dan bahwa agama Islam kompatibel dengan hukum alam dan ilmu- ilmu modern. Peneliti lain menempatkan Tanthawi pada posisi pakar keislaman yang menafsirkan Al Quran sesuai dengan zaman modern (waktu itu).
Pernyataan ini terlihat jelas dalam kitab tafsirnya Al-Jawahir dan karya lainnya, yaitu Al-Taj wa al-Murassha (Mahkota dan Mutiara), yang menjelaskan berbagai fenomena alam serta membahas titik temu antara filsafat Yunani, ilmu modern dan teks Al Quran.
C.     Sejarah Penulisan
Pada tahun 1922 M, yaitu ketika Syaikh Tantowi Al Jauhari berumur 60 tahun, beliau memulai menulis kitab tafsir bercorak ‘ilmiy ini. Beliau mengerjakannya selama 13 tahun hingga tahun 1935 M. Namun sebelumnya, kitab ini merupakan kumpulan artikel karangan beliau yang dimuat dengan nama kolom al-Taj al-Murassha’ bi Jawahir al-Qur’an wa al-Ulum. Beliau menulisnya pertama kali ketika mengajar di Universitas Dar al ‘Ulum, Mesir.Tulisan tangannya itu dimuat di dalam majalah Al-Malaji' Al-'Abasiyah.Tujuannya agar umat Islam 'menyenangi' keajaiban alam semesta.Keindahan-keindahan bumi, dan agar para generasi berikutnya cenderung pada nilai agama, sehingga Allah SWT mengangkat peradaban mereka ke tingkat yang tinggi.
Alasan mendorong syaikh Tantowi Jauhari untuk mengarang kitab tafsir ini, ia sebutkan sendiri dalam muqaddimahnya. Beliau mengatakan, “Sejak dahulu aku senang menyaksikan keajaiban alam, mengagumi dan merindukan keindahannya, baik yang ada di langit atau kehebatan dan kesempurnaan yang ada di bumi. Perputaran atau revolusi matahari, perjalanan bulan, bintang yang bersinar, awan yang berarak datang dan meghilang, kilat yang menyambar seperti listrik yang membakar, barang tambang yang elok, tumbuhan yang merambat, burung yang beterbangan, binatang buas yang berjalan, binatang ternak yang digiring, hewan-hewan yang berlarian, mutiara yang berkilauan, ombak laut yang menggulung, sinar yang menembus udara, malam yang gelap, matahari yang bersinar, dan sebagainya.”
Beliau lebih memperhatikan ayat-ayat kauniyah.Dalam muqaddimahnya, lebih lanjut beliau mengatakan alasan yang melatarbelakangi beliau dalam menulis tafsir ‘ilmiy ini.Beliau menyatakan, "...di dalam karangan-karangan tersebut aku memasukkan ayat-ayat Al Quran dengan keajaiban-keajaiban alam semesta; dan aku menjadikan wahyu Ilahiyah itu sesuai dengan keajaiban-keajaiban penciptaan, hukum alam, munculnya bumi disebabkan cahaya Tuhan-Nya.Maka aku meminta petunjuk (tawajjuh) kepada Tuhan yang Maha Agung agar memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga aku dapat menafsirkan Al Quran dan menjadikan segala disiplin ilmu sebagai bagian dari penafsiran serta penyempurnaan wahyu Al Quran.”
Beliau merasa tidak puas ketika melihat kondisi umat Islam yang hanya fokus dalam kajian fiqh atau tauhid dalam penafsirannya. Umat Islam pada masanya cenderung tidak memerhatikan fenomena alam dan keilmuan lain selain fiqh dan tauhid. Beliau menginginkan agar umat Islam tidak tertinggal dari orang-orang barat, dan agar umat Islam mau memerhatikan alam semesta, yang dimana Allah pun telah menyuruh manusia agar memerhatikan ayat-ayatnya dalam hal ini mengenai alam semesta. Sebagaimana yang beliau katakan, “Ketika aku berfikir tentang keadaan umat Islam dan pendidikan-pendidikan agama, maka aku menuliskan surat kepada para pemikir dan sebagian ulama-ulama besar tentang makna-makna alam yang sering ditinggalkan dan tentang  jalan keluarnya yang masih sering dilalaikan dan dilupakan. Sebab sedikit sekali diantara para ulama yang memikirkan tentang kejadian alam dan keajaiban-keajaiban yang melingkupinya.”
D.    Metode Penafsiran
Dalam menafsirkan, Syaikh Thanthawi mulanya menyebutkan nama surat, mengklasifikasikan Makki-Madani, menyebutkan ringkas pembahasan surat (mulakhkhash), mengelompokkan pembahasan ayat ke dalam beberapa kelompok (āqsam), menyebutkan tujuan umum surat (al-maqshad) tiap qism, menyebutkan munasabah dengan surat sebelumnya, kemudian memaparkan al-Maqshad al-Awwal yang dibagi menjadi beberapa fashl yang mengandung beberapa lathā’if   (penjelasan pembahasan perspektif ilmu modern) diselingi terlebih dahulu dengan tafsir perkata (tafsir lafzhi) dan terkadang diselipkan tadzkirah, hidayah, dan tanya jawab. Dengan ini, pemakalah menyimpulkan bahwa metode penafsiran yang digunakan Syaikh Thanthawi dalam kitab tafsirnya al-Jawâhir fî Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm, yaitu menggunakan metode tahlili.
E.     Corak
Berdasarkan pengamatan kami, corak dari tafsir ini adalah tafsir yang bercorak ‘ilmiy.Al Jauhari menafsirkan ayat-ayat al Quran dari segi ilmu pengetahuan.Namun beliau membahasnya dengan rinci dan tetap memasukkan gramatika atau kebahasaan.
F.      Sistematika
Jika kita melihat langsung pada kitab tafsir Al Jawahir ini, sistematika yang dipakainya adalah sistematika mushafi ‘Utsmani.Beliau memulainya dengan surah Al Fatihah.
G.    Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan daripada kitab ini adalah bahwa kitab ini dapat memberikan wawasan yang luas bagi pembaca.Hal itu karena beliau memaparkannya dari segi ilmu pengetahuan.Penafsirannya pun dilengkapi dengan riwayat-riwayat baik itu dari Nabi, sahabat, maupun tabiin.Dan juga, Al Jauhari menyertakan gambar-gambar seperti gambar struktur tumbuhan, hewan, dan lain sebagainya, sehingga tafsir ini menarik perhatian para ilmuan modern.
Kekurangannya, adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh sebagian ulama’ bahwa suatu bentuk tafsir ‘ilmiy lebih banyak ditentang. Hal itu karena sesungguhnya Al Quran berfungsi sebagai petunjuk, bukan keilmiahan.Apalagi menurut sebagian ulama’, beliau terlalu memaksakan penafsiran dengan dikaitkan pada ayat-ayat quran.
H.    Komentar Ulama’
·        Manna Al-Qaththan
Syekh Thantawy ini keterlaluan, sehingga tafsirnya tidak dapat diterima oleh orang-orang yang terdidik, karena ayat-ayat itu dibawa kepada selain pada maknanya.
Pengarang tafsir tersebut (Thantawy Jauharw) telah mencampur-adukkan kesalahan di dalam kitabnya.Ia memasukkan ke dalamnya gambar tumbuh-tumbuhan, binatang, pemandangan alam, dan berbagai eksperimen ilmu pengetahuan. Seakan-akan, buku ini adalah sebuah diktat tentang ilmu pengetahuan. Ia menerangkan hakekat-hakekat keagamaan  dengan apa yang ditulis Plato dalam Republica-nya dan kelompok Ikhwan al-Shafa dalam risalah mereka, memaparkan ilmu pasti dan ilmu modern. Dalam pandangan kami, Thantawy Jauharw telah melakukan kesalahan besar terhadap tafsir dengan perbuatannya itu.Ia mengira dirinya telah berbuat baik, padahal tafsirnya out tidak diterima oleh banyak terpelajar karena mengandung pemaksaan dalam membawakan ayat kepada apa yang bukan maknanya. Oleh karena itu, Tafsir ini mendapat predikat yang sama dengan yang diperoleh Tafsir al-Razi. Maka terhadapnya dikatakan, di dalamnya terdapat segala sesuatu keculi tafsir.”
·        Sebagian Ulama’
Kitab al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an al-Karim Tanthawi bin Jawhari dinilai oleh sebagian ulama sebagai kitab tafsir yang bercorak ilmiah (tafsir bi al-'ilmy), yang pada masanya telah memberikan ghirah tersendiri bagi umat Islam, khususnya dalam memahami, mendalami, dan menguasai perkembangan ilmu pengetahuan. Kendati terjadi perdebatan seputar eksistensi penafsiran bercorak ilmiah, kehadiran jenis tafsir ini secara umum masih dapat diterima dan dianggap tidak bertentangan dengan Al Quran.

3 komentar:

  1. Artikel kamu bagus gan! aku selalu menunggu artikel kamu.. Seperti artikel berjudul Tafsir Mimpi Ikan

    BalasHapus
  2. Gan... repost jurnal tafsir al jawahir al hisan fi tafsir quran karya al-tsa'laby untuk referensi tgas

    BalasHapus
  3. Gan... repost jurnal tafsir al jawahir al hisan fi tafsir quran karya al-tsa'laby untuk referensi tgas

    BalasHapus

Pembaca yang baik meninggalkan jejak yang baik,
Jangan lupa di comment ya :)